MISI KRISTENISASI DI MEDIA
BERPOROS DOKTRIN TRITUNGGAL
Latar Belakang Masalah:
o Misi internasional dalam kasus Timtim (1997) adalah perhatian pada sesama hamba yang tertindas oleh kemiskinan “sejalan dengan konsepsi gereja yang menderita”. Penderitaan mereka adalah derita gereja yang universal, maka intervensi kemanusiaan untuk warga Timtim berubah menjadi wajib dalam tugas ketuhanan. Terakhir bisa terulang dalam kasus misi penyelamatan Papua (Kompas, 24/05/06), kita ingat doktrin Katolik “tiada keselamatan di luar Gereja” dan bagi Protestan “tiada keselamatan di luar Kristen” (Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama, Tinjauan Kritis, Perspektif KGI, Jakarta, cetakan ke-1, 2005, hal 20, 77, 249, 256).
o Misi global ini dapat dilihat pula dari berhasilnya pengaruh tren pemikiran pluralisme-liberalisme dikalangan Muda Indonesia dengan mengangkat isu-isu aktual seperti keadilan sosial, tenaga kerja, gender, kebebasan dll. dengan menghubungkannya pada konsepsi kebangsaan. Seminar Reformasi Visi Indonesia 2030 dikemas dengan baik oleh penyebar misi, menggiring opini bahwa terjadi intervensi kapital atau penguasaan pasar global di dalam negeri dan pemaksaan fundamentalisme sektarian lokal (baca Kompas, 19-20 dan 22/05/06!).
o Gerak kristenisasi dunia telah menggurita di lingkungan kita. Agenda global yang diboncengi misi gereja, tidak bisa dilepas dari tiga doktrin akar keyakinan mereka meski Yesus misalnya hanya untuk kaum Israel (Mat 15:24, Kis 5:31, Why 5:5, Mat 2:1,2,5,6), faktanya ajaran bernafas gereja terus disebar, bahwa 2020 akan terjadi transformasi amanat agung disusul turunnya Yesus. Sementara QS 114:1-6 mengindikasi ketuhanan buat seluruh manusia itu berwujud rububiyyah – mulukiyah – uluhiyah yang bersifat spiritual mendasari setiap amal manusia (Tafsir Al-Munier Jilid 30, Wahbah Zuhaili hal 480-483). Diperlukan sikap kritis membaca perkembangan dakwah misi, yang tak melepaskan dasar pemikiran/keyakinan dari langkah aksi, demikian pula konsistensi dan kesabaran menjalankan agenda dakwah bersama.
Dakwah Misi Di Media:
o Penguasaan Kristologi yang lemah dalam banyak kasus menjadikan dakwah Islam kurang efektif, bahkan pemikiran barat mendominasi diskursus dakwah misi di media. Padahal akar teologi gereja hingga kini kabur dan tidak selesai dalam perdebatan internal mereka (Yoh 4:24, Rom 9:5, 10:9, Kis 9:19), sementara Yoh 17:3 bahwa satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah diutus. Elastisitas teologi ini mendasari misi Kristen yang kini menjadi misi global dan disebar melalui agenda aksi dimanapun. Disinilah programa media masa (tulis-lisan-visual) perlu dicermati dengan kritis, bagaimanapun keyakinan melahirkan agenda praksis. Perlu dimulai pendalaman kristologi dan pemilihan obyek studi/penelitian berbasis Alqur’an -Alkitab dengan banyak terlibat praktek lapangan.
o Ibarat sepakbola, kondisi umat saat ini memasuki permainan babak akhir, maka dibutuhkan kerjasama yang padu oleh semua unsur pemain dakwah misi disertai pemahaman peta lapangan serta anatomi strategi lawan tanding. Adakah peran kecil (operan bola atau gerakan pengecoh) yang mampu disumbangkan pada pos-pos da’i misi di lingkungan lapangan dakwah? Logika pasar (lapangan) mesti dikuasai, juga pilar keislaman yang utuh akan menerangi jalan pertandingan, bahwa organisasi serangan mutlak diatur di setiap lini dakwah.
Aksi Dakwah Bagaimana Yang Dibutuhkan? :
o Karena inti gerakan kristenisasi berporos pada tritunggal, maka sasaran penting yang strategis adalah “merobohkan” doktrin tersebut. Faham-faham global berupa pluralisme, sekularisme, liberalisme dan turunannya yang saat ini dipasarkan media gereja dimanapun berdiri diatas fondasi keyakinan Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Yesus. Teologi ini melahirkan ajaran dosa waris, penyaliban Yesus, keselamatan gereja dan Kristen, kenabian Yesus, yang berakibat pengkaburan konsep ketuhanan Kristus maupun kontradiksi ayat-ayat Alkitab. Mereka selalu berpaling (Luk 9:20, 24:43, Mat 28:19) dan menyembah selain Allah (QS 42:15, 5:73-77). Memahami teologi gereja berdasar anatomi Alkitab bisa efektif menghalau sebaran doktrin. Membaca peta kristenisasi di media, akan memperjelas strategi “bermain”.
o Menejemen aksi bersama menghadapi misi kristenisasi di media, kian bermakna apabila dimulai dari yang kecil-kecil dan berasal dari lingkungan sendiri. Mengenal substansi taqwa, kufur dan nifaq mempertegas garis perjuangan dan selamatkan bakti agama (QS 2:1-20). Konsep Ibda Bi Nafsika mengurai kemudahan langkah-langkah dakwah misi, menguatkan bangunan pilar keyakinan berislam serta menumbuhkan energi-sinergi dakwah berkelanjutan.
o Melalui target misi skala kecil, yakni meneruskan agenda Forum ini, maka perubahan pelan tapi pasti akan sampai pada hasil (visi material maupun misi spiritual) gerak dakwah yang lebih baik. Tausiyah diantara kita sangat dibutuhkan, agar hasil-hasil kecil itu tidak malah membebani langkah besar di masa yang akan datang. Wallahu a’lam [ ]
Dari issue kristenisasi di media akan melebar ke luasnya aktivitas keseharian dakwah itu sendiri, oleh siapapun kapan dan dimanapun media digunbakan.
Maka salah satu media yang disorot yakni TELEVISI terlalu banyak persoalan bagi pendidikan keluarga, dari sini jendela
pikiran anak-anak terbuka dan angin jahat masuk lewat pintu tak kelihatan.
Nah, tayangan yang masuk dalam kategori Bahaya merupakan tayangan yang mengandung lebih banyak muatan negatif, seperti kekerasan, mistis, seks, dan bahasa kasar. Kekerasan dan mistis dalam tayangan yang masuk dalam kategori ini dinilai cukup intens sehingga bukan lagi menjadi bentuk pengembangan cerita, tapi sudah menjadi inti cerita. Tayangan dalam kategori ini disarankan untuk tidak disaksikan anak.
Berikut ini adalah daftar acara yang masuk dalam kategori Aman, Hati-hati, dan Bahaya (http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/14/14531377/tom..jerry.tayangan.tv.berbahaya)
berasal:
AMAN: Varia Anak (TVRI), Bocah Petualang, Laptop Si Unyil, Jalan Sesama, Cita-citaku, Si Bolang ke Kota, Buku Harian si Unyil (TRANS7), Surat Sahabat, Cerita Anak, Main Yuk! (TRANS TV), Dora The Explorer, Go! Diego Go!, Chalkzone, Backyardians (TV G), dan Masa Kalah Sama Anak-anak (TV One)
HATI-HATI: Idola Cilik Seleb, Rapor Idola Cilik Seleb, Doraemon, Pentas Idola Cilik, Rapor Pentas Idola Cilik (RCTI), Casper, Harveytoon (TPI), Transformers (AN TV), Pokemon Series, Bakugan Battle Brawlers, Konser Eliminasi 6 AFI Junior (IVM), New Scooby Doo Movie (TRANS7), SpongeBob Squarepants, Avatar: The Legend of Aang, Carita De Angel (TVG)
BAHAYA: Tom & Jerry, Crayon Sinchan (RCTI), Si Entong, Tom & Jerry, Si Entong 2 (TPI), Popeye Original, Oggy & The Cockroaches (AN TV), Detective Conan, Dragon Ball, Naruto 4 (INDOSIAR), Tom & Jerry (TRANS7), One Piece, Naruto (TVG).
ING
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network
Nilai 1.97 A A A
Ada 31 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
rinal @ Selasa, 15 Juli 2008 | 16:59 WIB
sebagian tayangan di atas tidak murni negatif, kebanyakan malah jauh lebih edukatif daripada sinetron2 SAMPAH yang bertebaran di seluruh TV saat ini. ambil saja One Piece, ia dipenuhi nilai-nilai persahabatan, imajinasi, konsep yang mendalam, kreativitas, ilmu pengetahuan tentang kelautan (walau sebagian fiktif), dan humor. bila hanya mencari unsur negatif tentu saja seluruh tayangan akan terlihat buruk. sebagian tayangan tersebut juga sebenarnya memiliki target audience remaja, jadi memang kurang tepat bila ditayangkan di waktu tayang untuk anak2, dalam hal ini stasiun TV lah yang salah menempatkan slot waktu tayang.
TIDAK SEMUA FILM KARTUN DITARGETKAN UNTUK ANAK-ANAK, lihat saja Beavis
David @ Selasa, 15 Juli 2008 | 12:41 WIB
Saya dari kecil nonton Tom and Jerry tapi ga jadi sadis kok… Tergantung anaknya lah dan bagaimana didikan orangtuanya…
orangawam @ Selasa, 15 Juli 2008 | 08:32 WIB
Belum ditulis kriteria film baik untuk anak-anak. Jika ada, orang tua akan menyuruh anak-anaknya untuk melihat.
initial d @ Selasa, 15 Juli 2008 | 08:04 WIB
kasih aja rating di tiap penayangan. tanggung jawab diserahkan pada keluarga..kok repot2 nyari sensasi ketika kita lagi terpuruk…
berry @ Selasa, 15 Juli 2008 | 07:07 WIB
dari dulu sampai sekarang g ada yang mati gara-gara efek samping nonton tom.
Maka sekali lagi, issue akan berlanjut apakah film karton
dan kesenangan anak-anak di rumah-rumah ini menjadi pintu
masuknya perusakan aqidah dan moral keluarga?
Apakah mungkin kristenisasi akan menggurita lewat karton,
atau film dan tayangan TV lain yang meresahkan.
Sekali lagi kita baca peringatan tetangga sebelah yok!
Berikut ini adalah daftar acara yang masuk dalam kategori Aman,
Hati-hati, dan Bahaya:
AMAN: Varia Anak (TVRI), Bocah Petualang, Laptop Si Unyil, Jalan
Sesama, Cita-citaku, Si Bolang ke Kota, Buku Harian si Unyil (TRANS7),
Surat Sahabat, Cerita Anak, Main Yuk! (TRANS TV), Dora The Explorer,
Go! Diego Go!, Chalkzone, Backyardians (TV G), dan Masa Kalah Sama
Anak-anak (TV One)
HATI-HATI: Idola Cilik Seleb, Rapor Idola Cilik Seleb, Doraemon,
Pentas Idola Cilik, Rapor Pentas Idola Cilik (RCTI), Casper,
Harveytoon (TPI), Transformers (AN TV), Pokemon Series, Bakugan Battle
Brawlers, Konser Eliminasi 6 AFI Junior (IVM), New Scooby Doo Movie
(TRANS7), SpongeBob Squarepants, Avatar: The Legend of Aang, Carita De
Angel (TVG)
BAHAYA: Tom & Jerry, Crayon Sinchan (RCTI), Si Entong, Tom & Jerry, Si
Entong 2 (TPI), Popeye Original, Oggy & The Cockroaches (AN TV),
Detective Conan, Dragon Ball, Naruto 4 (INDOSIAR), Tom & Jerry
(TRANS7), One Piece, Naruto (TVG).
ING
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network
http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 07/14/14531377/ tom..jerry. tayangan. tv.berbahaya.