Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Makna Basmalah:
Aku memulai pekerjaanku dengan menyebut asma Allah, selalu mengingatNya dan mensucikanNya sebelum setiap melakukan apapun, memohon pertolonganNya dalam seluruh persoalan hidup. Dialah Allah, sebagai Rab yang berhak untuk disembah, rahmat-kasihNya sangat luas meliputi segala bentuk kasih saying pada sesuatu apapun, Tuhan Pemberi nikmat karena sifat dan keagunganNya, Yang Maha Sempurna dengan segala kebijaksanaan, kasih sayang dan kebaikanNya.
Hikmah Basmalah:
Allah SWT memulai Surat al-Fatihah dengan bacaan (basmalah), demikian pula saat mengawali setiap surat lain dalam al-Qur’an kecuali pada Surat at-Taubah. Hal ini sebagai perhatian bahwa apa yang ada di dalam kitab al-Qur’an itu adalah benar (haq), dan janji Allah yang terikat bagi hambaNya juga benar. Maka Allahpun mencantumkan buat manusia dalam kandungan surat-suratNya itu hal-hal yang menyangkut janji, kasih sayang dan amal kebaikan. Dan merupakan petunjuk untuk itu diperlukan dalam memulai setiap pekerjaan dengan menyebut (basmalah) sebagai wujud pertolongan dan taufiq dariNya, dan untuk membedakan orang-orang tak beriman yang menyebut nama-nama Tuhan lain atau bahkan sebutan pada pemimpin mereka.
Sebagian Ulama berpendapat, bahwa (basmalah) meliputi segenap perintah syariat, karena bacaan ini mewakili Dzat dan seluruh Sifat Allah.
Apakah Basmalah itu Bagian dari Al-Fatihah?
Para Ulama berselisih pendapat tentang (basmalah) ini, apakah merupakan bagian ayat dari surat al-Fatihah dan surat-surat lain ataukah tidak merupakan bagian darinya. Pendapat mereka terbagi dalam tiga kelompok:
Pertama, Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa (basmalah) bukan bagian dari Al-Fatihah maupun surat-surat lain, kecuali termasuk bagian dari surat An-Naml yang terletak di tengah surat. Pendapat ini didasarkan hadist Anas RA yang mengatakan, bahwa dia telah sholat bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar dan Usman tak mendengar seorangpun diantara mereka itu yang membaca “Bismillahirrahmanirahiem”. HR. Ahmad. Bahwa para sahabat Madinah tidak membaca (basmalah) ketika mereka sholat di masjid-masjid Madinah. Sedangkan menurut pendapat Hanafiyah, bahwa Bismillahirrahmanirahiem dibaca sirri dengan surat Al-fatihah di setiap rakaat karena dia bagian ayat Al-Qur’an tapi bukan dari surat al-Fatihah dan hanya untuk membedakan antara surat-surat.
Malikiyah berpendapat, (basmalah) tidak dibaca dalam sholat-sholat wajib baik dengan bersuara keras maupun sirri (suara lirih), tidak pula dalam surat al-Fatihah maupun surat lain, dan dibolehkan membacanya secara terpisah sendiri. Qurthubi mengatakan, bahwa yang paling sahih diantara pendapat diatas adalah apa yang dikatakan Imam Malik, karena ketetapan al-Qur’an bukan atas dasar berita perseorangan melainkan melalui metode pasti (mutawathir) tanpa menimbulkan pertentangan. Pendapat inipun belum jelas disebabkan bukan merupakan kelaziman yang berlaku pasti bagi setiap ayat.
Abdullah ibnu al-Mubarak berkata, bahwa sesungguhnya (basmalah) merupakan ayat bagian dari setiap surat. Pendapat ini berdasar hadist riwayat Muslim berasal dari Anas RA mengatakan; Suatu hari kami duduk-duduk bersama Rasulullah SAW dan jelas kami lihat beliau ngantuk, kemudian Nabi mengangkat kepala sambil tersenyum lalu kami berkata: Apakah yang menyebabkan engkau tersenyum ya Rasul? Beliau bersabda: “Baru saja tadi turun kepadaku satu surat” maka beliaupun membaca QS al-Kautsar [109]:1-3.
Pendapat lain berasal dari Imam Syafi’i dan Hambali, bahwa (basmalah) merupakan bagian dari surat al-Fatihah yang wajib dibaca dalam sholat. Hanya Hambali mengatakan sebagaimana yang dikatakan Hanafi, bahwa membaca (basmalah) itu cukup bersuara lirih (sirri) tanpa men-jahr-kan dengan suara keras. Sedang bagi Syafi’i dibacanya sirri dalam sholat-sholat yang sirri, dan dibaca dengan suara keras untuk sholat yang jahri seperti seluruh bacaan al-Fatihah, jelas dengan suara keras. Rujukan pendapat bahwa (basmalah) bagian ayat dalam al-Fatihah itu berdasar hadist riwayat Daruquthni dari Abu Hurairah, sanadnya shahih, bahwa Nabi SAW bersabda: “Apabila kalian membaca al-Fatihah Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin, maka mulai dengan bacaan (basmalah) karena sesungguhnya dia induk kitab al-Qur’an, disebut as-sab’ul matsani dan Bismillahirrahmanirahiem itu salah satu dari ayat-ayatnya.”
Sandaran dalil bagi yang berpendapat membaca (basmalah) dengan suara keras (jahri) dalam bacaan al-Fatihah, selain yang disebut Imam Syafi’i yakni hadist yang juga diriwayatkan oleh ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW men-jahr-kan bacaan (basmalah). Alasan lain bahwa (basmalah) merupakan ayat dalam al-Qur’an yang dibaca jahri setelah (ta’awudh), maka disunnatkan membacanya jahri sebagaimana ayat lain dalam al-Fatihah.
Imam Syafi’i ragu menetapkan apakah (basmalah) merupakan ayat bagian setiap semua surat; terkadang dia berpendapat bahwa (basmalah) bagian tiap surat, tapi saat lain mengatakan bukan bagian dari setiap surat kecuali pada al-Fatihah saja. Yang benar adalah bahwa (basmalah) merupakan bagian tiap surat seperti dalam al-Fatihah, berdasar kesepakatan para sahabat Nabi atas penyebutan (basmalah) di setiap awal surat kecuali pada surat (bara’ah), dengan catatan mereka tidak menuliskannya pada mushaf apa yang memang bukan dari al-Qur’an.
Lain dari pertentangan pendapat (secara fiqih) dari hal diatas, para Ulama sepakat mengatakan bahwa (basmalah) merupakan ayat dalam surat An-Naml dan membolehkan penulisan (basmalah) itu pada awal penulisan ilmu pengetahuan dan risalah ilmiah. Tapi jika menuliskannya kitab (al-Qur’an) dalam syair, maka hal itu terlarang bagi Sya’bi dan Zuhri, sedangkan oleh Said ibn Jabir dan sebagian besar Ulama Muta’akhirin memboleh kannya.
Keutamaan:
Tentang fadhilah bacaan (basmalah) ini Ali RA mengatakan, bahwa (bismillah) dapat menjadi obat setiap penyakit serta pertolongan yang menyertai obat. Sedangkan (ar-Rahman) akan menjadi penolong bagi setiap yang beriman kepadaNya. Dia adalah kata yang tiada nama berhak menggunakannya selain Dia. Dan (ar-Rahim) itu diperuntukkan bagi mereka yang bertobat, beriman dan menjalankan amal shalih. []
sumber: Tafsir Al-Munir, Wahbah az-Zuhaili.